Kilas Prestasi

Dari DOA Menuju Negeri SAKURA

Administrator@DJ | Selasa, 05 Maret 2019 - 09:39:32 WIB | dibaca: 128 pembaca



SMA KHADIJAH: Allah mengabulkan permintaan orang yang bersungguh-sungguh. Doa setelah shalat yang tidak lebih dari setengah jam bisa membuahkan hal besar seperti ini. Tidak sia-sia aku berikhtiar. Bapak selalu bilang.

Oleh: Safira Ghina*

Bangun, buka smartphone, refresh inbox e-mail. Tidak ada e-mail yang ditunggu. Close. Harusnya sudah waktunya e-mail itu datang. Ini sudah tanggal 30 November. Kegelisahanku ku basuh dengan air wudhu.

Pukul 14.30: Aku di dalam kereta menuju Stasiun Surabaya Gubeng saat itu. Goyangan kereta membuatku terkantuk. Namun, bagaimanapun posisi duduk di kereta tidak nyaman. Aku tidak bisa sepenuhnya tertidur. Dalam ambang antara tidur dan bangun, aku merasa getaran di tanganku. Notifikasi smart phone ternyata. Notifikasi yang ku dapat berasal dari grup LINE “Kandidat Penerima Beasiswa MOMBUGAKUSHO”. Pada notification bar tertulis : “Selamat!” , “Siapa aja yang dapat?”. Aku berdebar membacanya. Segeralah aku me-refresh e-mail. Ada. E-mail yang ku tunggu-tunggu.

“Pengumuman Seleksi Akhir Beasiswa”, begitu subjectnya. Aku panik. Yang bisa meredakan panik ini hanya ibu. Aku harus menghubunginya sekarang.

Assalamualaikum. Ibu.”

“Iya, kenapa sayang?”

Sepertinya ibu sedikit terkejut dengan nada suaraku yang tegang.

“Ada e-mail pengumuman beasiswa.... Ini enaknya dibuka sekarang atau nanti, setelah sampai rumah?”

Ibu terdiam sesaat. Aku mendengar ibu berkata ‘ya allah’, ‘bismillah’ dengan suara yang kecil.

“Buka aja sekarang. Buka nanti atau sekarang tetap aja hasilnya sama. Fira harus terima ikhlas apapun hasilnya.”

Begitu jawab ibu.

“Siap. Assalaimualaikum.”

Waalaikumsalam.”

Lalu aku menutup telfon, dan kembali ke layar e-mail. Aku harus tahu isinya. Sekarang atau nanti, hasilnya tetap saja. Dengan berkali-kali mengucapkan ‘bismillah’, aku mengetuk e-mail itu. Di bawah subject e-mail, ada cara konfirmasi dan penjelasan mengenai keberangkatan. Di bawahnya, baru ada nomor peserta yang lolos seleksi akhir. Aku selalu ingat kodeku. Scroll, scroll.... ada. Kodeku paling bawah. Tidak salah. Ini kodeku.

Aku terisak-isak. Rasa haru menyembur dadaku. ‘alhamdulillah...’ ucapku. Ibu harus mengetahuinya paling pertama. Pokoknya harus ibu. Lalu aku menelfon ibu lagi. Ibu segera mengangkatnya. Ibu pasti menunggu telfon dariku.

“Ibu, Fira keterima. Fira lolos.”

Ternyata suaraku bergetar.

“Apa?”

Suara ibu juga bergetar.

“Fira lolos.”

Alhamdulillah....”

Suara ibu hampir tidak terdengar. Ibu juga terisak. Ibu pasti menangis. Ibu itu gampang terharu orangnya. Tapi ternyata, aku juga menangis.

“Kenapa mbak?”

Tanya bapak paruh baya yang di sebelah kananku. Suami-isteri yang di sebelah kiriku memberiku tissue. Dari pandangan penumpang lain, aku pasti perempuan aneh yang tiba-tiba menangis di dalam kereta. Mungkin aku dikira putus cinta. Aku tidak peduli, aku penumpang yang paling bahagia di kereta saat ini.

“Pokoknya Fira harus ikut JLPT setiap tahun.”

Begitu kata ibu. JLPT adalah pengambilan nilai kemampuang bahasa Jepang. Sertifikatnya bisa digunakan untuk berbagai macam hal. Anggap saja seperti TOELFnya bahasa Jepang. Bedanya, kalau di JLPT ada level. Yang paling mudah adalah N5, yang paling sulit adalah N1. Dan ada standart nilai yang dianggap lulus. Aku selalu lulus N1 setiap tahun. Walaupun nilaiku naik turun. Kadang aku berpikir, untuk apa harus ikut setiap tahun?

“Nanti ada manfaatnya buat Fira kuliah di Jepang kok, pasti.”

Begitu jawab bapak.

Aku bercita-cita melanjutkan kuliah di Jepang dari dulu. Lebih tepatnya dari SMP. Ketika aku sudah mulai memahami bagaimana hebatnya bapak, yang berhasil mendapat beasiswa untuk kuliah di Jepang. Orang tuaku juga bercita-cita begitu. Karena keluarga kita pernah tinggal di Jepang, tidak begitu asing negara itu bagi kami. Ada rasa rindu juga yang mendorong terciptanya cita-cita itu.

Begitu meranjak ke SMA, ibu selalu mendorongku untuk belajar.

“Ga usah ranking satu gapapa. Pokoknya harus meningkat.”

Begitu katanya.

Untuk aku yang pemalas, belajar itu bukan hal yang menyenangkan. Namun seiring naiknya kelas, rasa persaingan dalam akademis semakin meningkat. Akupun tersadarkan dengan sendirinya.

Di kelas 3 SMA, ibuku mengajakku mencari informasi di kampus ekspo. Kampus ekspo yang ku datangi adalah khusus mengenai kampus Jepang. Selain tentang kampus, disana juga ada informasi tentang beasiswa. Yang aku pahami, beasiswa untuk belajar di Jepang (atau mungkin negara lain juga sama) ada dua macam :  yang pertama, beasiswa yang kita apply dahulu, setelah dapat, baru pilih perti yang kita inginkan. Yang kedua, kita mendaftar pada perti dengan biaya sendiri, dan kita apply beasiswa yang ditawarkan dari perti itu sendiri. Tapi yang kedua ini gambling. Karena jika kita tidak mendapatkan beasiswa, kita melanjutkan kuliah di Jepang dengan biaya sendiri. Biaya hidup di Jepang sangat mahal pastinya.

Stand kampus yang paling ramai di kampus ekspo itu adalah Kyoto University, Osaka University, dan stand penjelasan mengenai beasiswa Monbukagakusho(atau biasa disebut Monbusho). Beasiswa Monbukagakusho adalah beasiswa penuh yang ditawarkan dari pemerintah Jepang untuk mahasiswa luar negeri. Beasiswa ini salah satu beasiswa yang terkenal dan banyak diminati karena besarnya uang saku yang ditawarkan dan biaya apartment serta biaya perjalanan ke Jepang ditanggung semua oleh pemerintah. Bapakku menempuh S2 dan S3 juga dengan beasiswa Monbukagakusho ini.

Ibu sudah melirik beasiswa Monbukagakusho dari awal. Aku pernah ditawarkan beasiswa ke Jepang. Tawaran beasiswa ini aku terima karena kemampuan berbahasa Jepangku tinggi. Namun ibu tidak mengambil tawaran itu.

“Monbusho aja. Ini sedikit uangnya.”

Kata ibu.

“Tapi Monbusho susah ‘kan? Kalau ga dapet Monbusho, gimana?”

Balasku.

“Kalau ga dapet ya udah. Fira lanjut kuliah di Indonesia. Daripada beasiswa yang ini. Uang segini habis cuma untuk bayar kuliah. Bayar apartment sama biaya hidup gimana? Ibu sama bapak ga mampu kalau bayar biaya hidup di Jepang. Mahal.”

Begitu jawabnya. Ibu bersikeras bahwa aku harus mendapatkan beasiswa Monbukagakusho.


Bulan Mei

Di bulan itu aku masih berbunga-bunga karena diterima SNMPTN. Setiap hari ku habiskan dengan bermalas-malasan sambil scroll timeline. Di waktu seperti itu, ibu memberiku setumpuk latihan soal.

“Nge-flynya udahan. Mulai sekarang Fira les private sampai Juli nanti. “

Yang ibu beri adalah soal-soal tes tulis beasiswa Monbugakusho tahun sebelumnya. Untuk aku yang tidak ada persiapan SBMPTN sama sekali, soal-soal itu sangat sulit. Kadang ada yang berkata padaku,

“Kamu mah enak SNMPTN. Tinggal guling-guling aja sampe Agustus nanti.”

Sebenarnya sama sekali tidak. Walaupun benar bebanku untuk memikirkan kuliah dimana sudah tidak ada, namun tetap saja aku harus belajar.

Di bulan Mei itu aku apply beasiswa. Seleksi pertama adalah seleksi dokumen. Karena jurusan yang ku pilih adalah Sastra Jepang Modern yang tergolong IPS, aku bisa mendaftarkan diri dengan sertifikat JLPT N1ku. Jika memilih jurusan kategori IPA, syarat pendaftarannya adalah nilai rata-rata UN yang lebih dari 84. Selain sertifikat JLPT dan nilai rapot, kita juga mengirimkan formulir pendaftaran, fotokopi SKHUN, fotokopi Ijazah, dan surat rekomendasi kepala sekolah.

Kalau boleh jujur aku tidak begitu tegang di tahap seleksi dokumen. Aku yakin jika aku lolos. Persyaratannya, minimal butuh sertifikat N3 untuk mendaftar. Sedangkan aku menggunakan setifikat N1.

Di bulan Juni, datanglah pengumuman hasil seleksi dokumen. Aku lolos. Dari bulan itu aku mulai les intensif untuk tes tulis di bulan Juli nanti.

Bulan Juli

Tes tulis berlokasi pada Universitas Tujuh Belas Agustus Surabaya. Banyak siswa dan mahasiswa yang pastinya seumuran denganku. Disana tidak hanya pelamar beasiswa Undergraduate. Ada pelamar College of Technology dan Spesialized Training College juga. Untuk tes tulis Undergraduate dilakukan di lantai paling atas. Di Surabaya ini, total ada 24 orang yang mengikuti tes tulis.

Aku tegang hari itu. Aku merasa kecil. Di perjalanan ke lantai atas, aku melihat  satu-satu wajah para siswa yang juga bertujuan sama denganku. Mereka terlihat jauh lebih cerdas dariku. Aku mengingat-ngingat kembali masa aku belajar. Belajarku sambil bermalas-malasan. Sering kali perkataan guruku tidak masuk kepala. Aku kurang percaya diri pada tes tulis.

Ajaibnya, aku lolos. Aku berhasil lolos tes tulis. Pengumuman itu datang di akhir bulan Juli dengan bentuk e-mail.

“Ibu, bapak, Fira lolos!!!!”

Begitu teriakku pertama menemukan nomor ujianku di lampiran e-mail. Ibu dan bapak tidak bisa berkata lain selain “Alhamdulilah.” Untuk beberapa saat. Tapi aku tidak bisa langsung lega. Ini masih seleksi tahap kedua. Seleksi selanjutnya adalah wawancara yang dilakukan di Kedutaan Besar Jepang di Jakarta pada awal Agustus.


Bulan Agustus

Ada 20 orang dari seluruh Indonesia yang lolos ujian tulis. Ini sudah hampir mencapai akhir. Yang awalnya beribu orang, sekarang hanya 20 orang. Keteganganku memuncak di tes wawancara ini. Sebelum hari-H tes wawancara, aku berlatih dengan ibu atau bapak setiap hari.

“Jangan tegang. Kakinya yang rapat. Harus senyum.”

Bapak menyarankanku untuk merekam suara ketika latihan wawancara. Setiap hari ku lakukan. Di hari terakhir latihan, saat itu aku di hotel bersama ibu. Suaraku tersandat. Terdengar tegang dari pada latihan kemarin.


Bismillah dulu Fira.”

Begitu kata ibu. Lalu ibu memutuskan untuk tidak berlatih terlalu banyak. Karena aku terlihat makin tegang seiring latihan.

Aku dan ibuku berangkat ke Kedutaan Besar Jepang pada jam 7.00 pagi. Aku berkenalan dengan beberapa orang disana. Semuanya sebaya denganku. Ada yang mahasiswa baru, ada yang semester kedua, ada juga yang tidak kuliah. Semua terlihat cerdas.  Ada yang dari UGM, UI, IPB dan ISI Jogja. Aku tidak percaya aku salah satu dari mereka. Yang berkenalan pertama denganku adalah mahasiswa IPB yang bernama Ratri. Dia dari Surabaya juga. Aku sangat kagum dengan dia. Dia sangat cinta dengan biologi. Jurusan yang dia pilih juga hanya satu : Biologi. Dia mahir berbahasa Inggris, bahasa Korea, dan tentunya bahasa Jepang. Dia juga pernah ke Jepang tahun lalu, sebagai penghargaan pemenang speech contest bahasa Jepang. Aku yakin dia akan lolos waktu itu.

Wawancara dilakukan perkelompok. Satu kelompok lima orang. Aku mendapat giliran kedua. Ratri giliran pertama. Di ruang tunggu, aku berkenalan dengan anggota kelompokku. Ternyata kelompokku semua berpengalaman tinggal di Jepang, pastinya semua mahir berbahasa Jepang. Ada yang pernah tinggal sampai SMP, ada yang SMA, dan ada juga yang magang. Yang tinggal di Jepang sampai SMA ini bernama Erika. Disana ia bersekolah di Sekolah Indonesia, maka dia belum pernah menerima penididikan gaya Jepang. Dia campuran Jepang-Indonesia, tapi tidak ada secuilpun ke-indonesia-an di wajahnya.

“Muka kamu Jepang tapi kok fasih bahasa Indonesia sih.”

Begitu kataku padanya.

“Kamu kan juga. Muka Indonesia kok fasih bahasa Jepang.”

Balasnya.

Mungkin karena jarang ada teman berbicara bahasa Jepang, kita asik berbincang dengan bahasa Jepang di ruang tunggu. Setengah jam kemudian, kelompok pertama masuk.

“Habis ini giliran kalian.”

Kata Ratri. Laki-laki yang sekelompok dengan Ratri berkata,

“Dari tadi yang ditanyain Ratri terus. Pasti keterima dia.”

Ratri malu-malu. Aku tidak heran. Dia memang penuh bakat.

Lalu kakak pembimbing mempersilahkan kita untuk menuju ke ruang wawancara. Tidak lupa salam, hormat, dan senyum. Yang mewawancarai adalah dua perempuan orang Indonesia, dan satu laki-laki orang Jepang. Yang banyak bertanya adalah dua perempuan ini. Yang laki-laki, hanya menyimak dengan melihat formulir pendaftaran kita. Pertanyaannya bukan pertanyaan yang mengejutkan. Kita disuruh untuk memperkenalkan diri, alasan memilih Mombusho, alasan memilih jurusan itu dsb. Aku mendapat pertanyaan,

“Kalau tidak lolos Monbusho ini gimana? S1 Mombusho itu susah loh, daripada D3 atau S2.”

Aku hanya menjawab sejujurnya. Bahwa aku akan melanjutkan kuliah di Indonesia, dan mendaftar Monbusho lagi tahun depan.

Sepulang itu aku hanya banyak diam. Terlalu banyak yang ingin ku ceritakan pada ibu, namun susah untuk cerita mulai apa. Di saat menunggu pesawat, ibu bilang,

“Apapun hasilnya, Fira harus ikhlas.”

Tanggal 13 Agustus

Pengumuman hasil tes wawancara telah datang. Aku lolos.

Aku bersorak di ruang tamu. Aku tidak percaya karena aku tidak pandai berbicara di depan umum. Yang lolos dari tahap wawancara ini total ada 16 orang. Ratri dan Erika juga termasuk. Tidak heran. Ratri sangat berbakat. Dia juga percaya diri dalam berbicara. Dia tidak usah berakting untuk memperlihatkan dirinya adalah orang yang layak dan pantas sebagai penerima beasiswa. Sedangkan Erika, dia juga sangat percaya diri. Dia menjawab pertanyaan tanpa ragu dan tersandat. Di saat itu juga aku mengetahui bahwa Erika adalah anggota idol group JKT 48. Maka tidak heran jika dia begitu pandai berbicara  di depan pewawancara.

Namun tidak lama kita terhanyut dalam suasana bahagia. Masih ada tahap terakhir. Seleksi dokumen lagi.

Kali ini dokumen kita akan dikirimkan ke Jepang. Disana kita akan dibandingkan dengan applier dari luar Indonesia. Kuota penerima beasiswa tidak ditentukan. Jika dari negara  A tidak ada yang dinilai pantas sebagai penerima, maka bisa jadi tidak ada satupun yang lolos. Aku dengar, dari Pakistan tidak ada yang lolos.

Bulan November

Aku mulai menegang dari pertengahan bulan. Diberitahukan bahwa pengumuman akan datang di antara Desember atau Januari. Namun salah satu teman tes wawancara berkata bahwa tahun lalu pengumumannya akhir November.  

Aku menjalankan kuliah di ISI Surakarta dengan sungguh-sungguh. Aku juga sayang dengan kampusku yang sekarang. Tapi bagaimanapun tetap saja terngiang-ngiang cita-citaku untuk berkuliah di Jepang.

Setiap hari aku usahakan shalat sunnah dhuha, mengaji setelah shalat maghrib, puasa senin-kamis. Ini yang aku pelajari di SMA Khadijah dulu. Jika mungkin hasilnya tidak sesuai keinginanku, mungkin itu yang terbaik. Aku sudah menyiapkan hati untuk ikhlas dengan hasilnya.

Ternyata hasilnya tidak mengecewakan. Aku lolos.

Untuk beberapa hari tidak terasa nyata bahwa aku lolos seleksi akhir beasiswa ini. Berkali-kali aku mengecek nomor pesertaku. Aku khawatir bahwa aku salah lihat. Tapi tidak, setiap kali aku cek, yang tertulis memang nomorku.


Allah mengabulkan permintaan orang yang bersungguh-sungguh. Doa setelah shalat yang tidak lebih dari setengah jam bisa membuahkan hal besar seperti ini. Tidak sia-sia aku berikhtiar. Bapak selalu bilang,

“Usaha harus diiringi doa. Baru manjur.” (**)


Surakarta, 7 Desember 2018

(**)Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Turcham edisi V 

* Alumnus SMA Khadijah 2017 Penerima Beasiswa MOMBUGAKUSHO, Jepang





Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)