Titik Nadir

Refleksi

Dongeng Tukang Potong Rambut

Admin SMADJ | Sabtu, 10 September 2016 - 16:46:13 WIB | dibaca: 553 pembaca



Oleh: Bierra S. Amatir

Dulu, saya selalu malas kalau disuruh potong rambut. Tak ayal, demi program cukur yang saya jalani sukses, orang tua selalu mengantar untuk eksekusi. Modelnya sama, model pendek. Padahal, cita-cita yang membara yakni punya rambut panjang. Tapi saya realistis. Bila menuruti keinginan, akan berhadapan dengan keputusan mutlak orang tua. Maka tidak ada pilihan.

Setelah berkeluarga, saya tetap membutuhkan jasa tukang potong rambut. Bedanya, tidak ada lagi omelan orang tua. Bilapun ada, itu dari protes istri. "Rambutnya panjang. Jelek." ujarnya. Tentu saya tak harus marah, sebab di lain sisi, sebagai pengajar di sekolah (bolehlah disebut guru) ada tuntutan untuk memendekkan rambut.

Nah, kebetulan saya tipe orang yang tidak tahu mendalam tentang model rambut. Jawaban "pendek rapi" merupakan kalimat wajib saat kepala akan dieksekusi.

Suatu ketika, dan ini salah satu momen yang menarik untuk saya kisahkan. Ketika asyik antre potong rambut, tiba-tiba nyelonong remaja.

"Ada apa Mas, ada yang kurang?" Ujar eksekutor.

"Ya, Pak. Rambut atas kurang tipis. Dimarahi Ibu" ujar remaja yang bagian pinggir rambutnya telah dibabat habis. Menyisakan bagian atas yang lumayan lebat. Singkat cerita, eksekutor terpaksa mendahulukan remaja itu. Hebatnya, tukang potong "menggratiskan" jasanya.

Yang menarik kemudian yakni, tukang potong tersebut kemudian mulai mendongeng. Tentang kejadian-kejadian lucu dan menjengkelkan yang dialaminya. Katanya, pernah ada orang tua yang menuduhnya sembarangan memotong rambut anaknya. Padahal, katanya, si anak sendiri yang ingin dipotong model begitu.

Pernah juga dia harus ekstra kerja tiga kali. Sebabnya? Pasien meminta model "sedikit pendek". Setelah kelar pencukuran, pasien bilang kurang pendek. Dicukur lagi. Kurang pendek lagi. Hingga berhenti pada model rambut saya, pendek dan rapi. Tentu dia uring-uringan, namun berusaha menahannya. "Lalu saya bilang begini. Kalau tadi modelnya bilang pendek dan rapi, pasti sudah kelar dari tadi Mas.." ujarnya dalam logat madura.

Saya terhibur. Baru kali itu dapat curhatan langsung dari tukang potong rambut. Menarik memang untuk mengetahui sudut pandang liyan. Apalagi memaknainya itu sebagai pengalaman kita sendiri. Lalu akhirnya, bila tiba waktunya potong rambut, berusaha memudahkan eksekutornya.

Secara general, memudahkan orang lain itu wajib. Menjadikan pribadi menjadi berguna bagi liyan. Yang secara realitas, susah untuk dilakukan. Tapi tidak mustahil. Kan?

-- Menertawakan macet--

Pandegiling-Sekolah

9 Sep 2016 17:51:59





Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)