Opini Civitas

JALAN RAYA ADALAH WARNA KARAKTER BANGSAMU

Administrator@DJ | Jumat, 04 Maret 2016 - 13:30:19 WIB | dibaca: 2632 pembaca



JALAN RAYA ADALAH WARNA KARAKTER BANGSAMU

::: Pak Shodiq (Penyair Amatir)

Teman saya yang sok bijak, pernah berkata demikian padaku. “Jika mau tahu karakter bangsamu, lihatlah jalan raya. Perangai pengguna jalan raya, adalah warna karakter bangsamu”. Waktu itu, saya tak benar-benar menanggapi ocehan teman semasa kuliah itu. Kini, setelah omongan itu terpisah sekitar delapan tahun, tiba-tiba saja obrolan tersebut meninju kepalaku. Telak.
Jalan raya adalah kehidupan antara. Saya sebut antara, sebab mayoritas pengguna jalan membuatnya semacam penghubung untuk tujuan tertentu. Misal, orang 1 bekerja di kantor Y. Maka untuk bisa aktivitas di kantor, tentu orang satu harus (tidak boleh tidak) melakukan ritual di jalan raya. Pergi dan pulangnya. Misal ini dapat kiranya kita generalkan untuk orang lain dengan pekerjaan atau tujuan yang berbeda.

Saya sebut mayoritas, sebab ada dari kita juga yang membuat jalan raya sebagai tujuan. Bukan lagi antara. Sekadar menyebut saja: sopir taksi, ojek online, sopir bus, pengamen, penjambret, dll.

Terbayang. Bagaimana hiruk pikuk jalan raya yang dihuni oleh beragam kepentingan.Oleh karena itu, negara hadir untuk mengatur sedemikian rupa. Sehingga, lampu lalu lintas, rambu-rambu, dan sederet aturan lainnya, sudah seharusnya tidak kita anggap sebagai aksesoris. Aataupun pelengkap.

Point terpenting dari jalan raya dan segenap kehidupannya, adalah efektivitas aturan. Aturan-aturan yang dijelmakan oleh rambu lalu-lintas itu sudahkah di laksanakan seamanah-amanahnya? Ataukah, norma-norma hukum (yang tentu saja akan ada sanksi bagi pelanggar) itu berjalan sebagaimana fungsinya?

Di perlintasan kereta api. Ini pengalaman saya dari waktu ke waktu. Ketika palang kereta api sudah turun, tidak jarang (baca: sering) oknum-oknum pengguna jalan enggan untuk sekadar berhenti. Tancap gas. Yang begitu-itu, kerap disusul oleh yang lain. Alasannya mungkin kereta api masih jauh. Peduli amat. Atau pemakluman, bisa jadi penyerobot itu sedang mempertaruhkan nyawanya bilamana terlambat sedetik. Dan, atau-atau lainnya. Sementara yang tidak nyerobot, meluber memenuhi semua ruas jalan. Maka ketika palang pintu sudah terangkak, hiruk pikuk dengan klakson-klakson jahanam, akan menambah cita rasa kemacetan.

Lampu lalu-lintas. Hijau, kuning, dan merah. Cuma itu dan mudah dihafal. Sudah diajarkan di sekolah-sekolah tingkat dasar. Realitasnya, terutama untuk daerah yang jauh dari polisi, warna-warna itu tak ubahnya menjadi semacam hiasan saja. Hijau hajar. Kuning tancap gas. Merah terabas. Saya pikir tidak susah untuk menemukan kondisi macam demikian. Saking akutnya.

Kemudian sederet lagi masalah. Bus penumpang yang kencangnya serupa jet. Prakir-parkir liar di sebarang tempat. Belok tanpa menghidupkan lampu sein. Penyeberang jalan yang nyeberang dengan santainya tanpa lihat kanan-kiri. Bunyi klakson bahkan saat lampu merah sekalipun. Mengendari motor ataupun mobil dengan zigzag. Jalur searah disulap menjadi dua arah. Jalur trotoar penuh kendaraan bermotor. Tentu Anda punya seabrek lagi deretan lainnya.

Korban di jalan raya bukan hal baru. Sekalipun harusnya bukan menjadi hal yang biasa. Saya sempat merekam kejadian arus mudik pada lebaran tahun lalu dengan puisi.

KEPERGIANMU ADALAH TAKHAYUL
-------
u/ korban massal lebaran 1436h
-------

Aku menyukai jalan raya
: tulismu di akun medsosmu
,
saat ini mungkin saja
cintamu itu sudah mengelupas
atau masih sama persis
sebelum tubuhmu terbanting
di lautan aspal beberapa hari lalu
,
bersama 600-an penikmat jalan
lainnya kamu berpulang
meregang nyawa di jalan raya
: pembantaian lebaran
kutip harian terkemuka
menyitir fatwa oknum dewan
,
sebagaimana kamu
aku juga mencintai jalan raya
mengabadikan tiap kerat aromanya
dalam galeri ponsel cerdas
menghafal silsilah sukadukanya
dalam album kenangan di meja kerja
,
sebagaimana kamu
suatu saat aku juga bisa sepertimu
terbantingbanting di sepanjang jalan
sebagaimana kamu
suatu saat siapa saja bisa menirumu
mencintai dan terbantingbanting
di atas hamparan kekekalannya
,
sebagaimana kamu
yang terbaring di jalanan
hanya menjadi tumbal peradaban
hanya menjadi angka statistik pemegang kebijakan publik
hanya menjadi penaik rating
di media media pemberitaan
,
dari jalan raya ini
aku mengenangmu sahabat
---kepergianmu adalah takhayul modernitas

-----
Krian petikemas, 28 Jul 2015 13:08:47

“Jika mau tahu karakter bangsamu, lihatlah jalan raya. Perangai pengguna jalan raya, adalah warna karakter bangsamu” kata itu tiba-tiba kencang di telinga akhir-akhir ini. Entah pada siapa harus kuadukan. Kepada siapa harus kucurhatkan. Mungkin kepada mereka. Mungkin kepadanya. Atau kepadamu? Yah. Kamu.

(Ruangkerja, 3/3/16)





Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)