Titik Nadir

Resensi Novel Ayah karya Andrea Hirata

MEMBACA AYAH: Model Baru Andrea

Admin SMADJ | Senin, 30 Januari 2017 - 11:03:15 WIB | dibaca: 211 pembaca



Ketika saya memutuskan untuk membaca Ayah-nya Andrea Hirata, satu hal yang terbersit di kepala. Saya seorang Ayah. Begitulah. Meski saya tahu, novel ini terbitnya beberapa bulan lau, tepatnya pertengahan 2016. Meski juga, saya menjadi ayah, jauh sebelum novel ini terbit. Namanya juga kelebatan pikiran, tidak bisa ditebak.

Kecuali novel Patriotik (kalau tidak salah judulnya), saya telah membaca semua novel Andrea. Ketika difilmkan, saya juga lihat. Laskar pelangi dan sang pemimpi. Untuk Edensor, belum sempat lihat. Berbekal itu, saya tentu memiliki referensi dari karya-karya putera Belitong tersebut.

Satu garis merah yang saya simpulkan dari novel Andrea yakni tokoh-tokoh yang diangkat yakni mereka yang terpinggirkan. Namun memiliki etos kerja dan semnagat yang tinggi. Saya berpikir (lebih tepatnya menebak), ini tidak lepas dari apa yang dialami penulis dalam hidupnya.

Novel Ayah kurang lebih demikian. Tokoh yang diangkat yakni golongan pinggiran. Semangat tokohnya juga begitu. Masih sama. Tentu saja, Andrea, begitu saya melihatnya, melakukan eksperimen untuk menyegarkan stylenya. Setidaknya, itu yang saya temukan dalam pembacaan.

Jalan penceritaan. Novel Ayah, mengawali cerita dari masa kini. Kemudian berkelana ke masa lalu. Lalu diakhiri dengan kelanjutan masa kini. Sepintas terlihat sederhana. Namun sejatinya tidak begitu.

Pada lembaran awal, pencerita mengatakan jika yang akan diuraikan yakni dari kisah Amiru. Siapa itu Amiru? Awalnya, saya tidak mencermati ini. Namun justru, itulah yang menjadi titik terang penceritaan.

Pencerita kemudian mengisahkan kehidupan tiap tokohnya. Yang seakan-akan, tiap kisah tidak bersangkut paut. Namun, tokoh-tokoh yang diceritakan kisahnya ini terjalin dengan baik dalam satu kisah penceritaan. Sehingga, harusnya, membuat pembaca terus tertantang untuk menyelesaikan lembar demi lembar.

Namun demikian, ada beberapa (kalau tidak banyak) narasi-narasi yang terlalu berlebihan. Sehingga membuat (saya) cukup bosan. Untungnya, novel ini penuh dengan citra humor yang berserakan di sana-sini.

Lalu bagaimana dengan cerita dalam novel ini? Setidaknya, Ayah mengajari kita jika dalam hidup itu adakalanya apa yang kita ingini (yang walaupun sudah kita usahakan dengan mati-matian) tidak bisa diraih. Sebelumnya, Andrea dalam penceritannya kerap menceritakan kisah yan bermodel dari zero menuju hero.

Lebih penting dari catatan ini, kamu sepertinya harus baca novelnya. Untuk menilik, apakah tulisan ini hoax atau bualan. Begitukan?

---

Penyair Amatir 

30/01/2017

Surabaya

--

Sumber Gambar: http://4.bp.blogspot.com/-MxEkg6mFm7k/VW5atJZMBfI/AAAAAAAAHks/kbQy1xyIK9Y/s640/IMG_1295.JPG 

 

 





Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)