Titik Nadir

Penyair Amatir

Raporku, Sensasiku

Administrator@DJ | Selasa, 02 Januari 2018 - 08:33:35 WIB | dibaca: 282 pembaca



Rapor. Beberapa mengatakan "rapot". Atau yang menyebutnya "raport". Mana yang betul? Tentu saja rujukannya ada di kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). Sila ditelisik.

Hari ini, sebagian besar tentu sudah menerima rapor. Sebagian kecil lainnya dengan alasan klasik maupun tidak, belum menerimanya.

Kalau sudah menerima rapor, sebagian kecil akan bersuka cita. Istilah Italianya, numero uno. Alias jawara paralel. Disusul juara kelas. Juara-juara kelas ini selain gembira juga ada sedikit geregetannya. Andai saja juara paralel...

Sebagian besar lainnya, peringkat dua hingga buncit, tentu saja ada yang gembira. Bila peringkatnya naik. Sedih bisa jadi, terlempar dari 10 besar atau lainnya. Atau tataran terakhir, yakni tidak memiliki perasaan apa-apa.

Gembirakan hatimu, bila mendapati diri kecewa ataupun merasa bangga atas hasil kerja kerasmu yang tertulis di rapor. Berarti dirimu memiliki rasa tanggung jawab terhadap dirimu sendiri. Terhadap orang tua yang telah mendukungmu dengan segala upaya terbaiknya.

Memang benar bila ada yang mengatakan, bahwa angka-angka gemuk (nilai baik) itu tidak menjamin mutlak masa depanmu. Maka dapat juga kita balik, jika saja dengan angka-angka gemuk demikian tidak bisa menjamin masa depan, lalu bagimana dengan yang angka-angka kurus?

Di bagian akhir tulisan ini, bagi kelompok yang tidak merasakan sensasi apapun (sedih, senang, dll) terhadap rapormu, semoga setelah membaca tulisan ini bisa merenung. Lalu mengambil simpulan.

"Mengapa saya biasa saja dengan rapor saya?" Atau setidaknya memikirkan masalah pembuka tulisan ini, yakni tentang: rapor, rapot, atau raport? Heuheu

Selamat berwisata bahasa. Selamat berwisata religi. Selamat berwisata sendiri.
---
Penyair Amatir
Raya kletek
14/12/17





Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)