Titik Nadir

Refleksi hari pahlawan 2016

Ruang yang Bernama Pahlawan

Admin SMADJ | Jumat, 11 November 2016 - 13:10:19 WIB | dibaca: 272 pembaca



Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Kalimat ini jamak kita dengar. Dan memang harusnya begitu. Tentu saja konsep pahlawan tidak saja dimonopoli oleh mereka yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini.

Pahlawan merupakan sebuah penamaan dengan batasan tertentu. Umumnya, mereka yang memiliki kegigihan dan semangat kerja keras bagi keluarga, lingkungan, bahkan bangsa negara. Oleh karena itu, di setiap sisi kehidupan akan selalu ada siapa yang dinamakan pahlawan. Konsepsi kepahlawanan bukan sebuah pengakuan oleh dirinya, tetapi pengakuan oleh di luar dirinya (liyan). - Bilapun tiba hari pahlawan, kita bisa melihat bagaimana konsep pahlawan dirayakan di sekolah-sekolah. Dominasi baju loreng ala tentara, nampaknya masih dominan. Tidak salah. Tetapi sebagai pendidik atau orang tua, setidaknya lebih bijak. Bahwa yang disebut pahlawan itu memiliki ruang yang lebih luas.  

Sehubungan dengan itu, saya pernah mengalami kejadian unik. Ketika diwajibkan memakai baju pahlawan, saya memilih memakai baju seragam sekolah. Hasilnya saya dicecar. Diberi beragam konsep konsep yang waktu itu membuat kepala pusing. Alasan saya sederhana kala itu. Anak sekolah itu bisa disebut pahlawan. Sebab melalui fase itu, mereka akan mencoba meraih masa depannya. Yang kelak akan membantu dan membahagiakan orang tua.

Pada akhirnya, memeringati hari pahlawan yang jatuh pada bulan ini, adalah sebuah tugas yang mulia. Sekaligus menjadi refleksi, bila konsep pahlawan memiliki batasan luas dan beragam.

Selamat hari pahlawan.

-- 

penyair amatir

Sidoarjo sehari setelah hari pahlawan





Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)