Hikmah

Jalan Taubat

Taubat

Administrator@DJ | Senin, 09 Oktober 2017 - 14:17:45 WIB | dibaca: 320 pembaca



  • Jalan taubat untuk penebusan dosa

Tiada seorang manusiapun yang dan terlepas terbebas dari beban dosa. Di samping menciptakan manusia dengan kesempurnaannya, Allah juga menciptakan kelemahannya. Dengan kelemahan kelemahan yang dimiliki manusia itulah, yang tentu sangat berpotensi untuk melakukan kesalahan-kesalahan. Orang yang baik bukanlah orang yang tidak pernah berbuat salah, namun orang yang baik itu adalah orang yang sadar pada diri sendiri atas  kesalahannya, kemudian menyesali, kemudian memohon ampun dan bertaubat kepada Allah seraya berkata dalam hati dan lisan “Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi”.
 
Rahmat Allah lebih besar dari pada Murkanya, namun manusia lebih banyak kesalahan dari pada kebenarannya. Manusia adala h tempatnya salah dan lupa  Maka predikat itu selalu melekat pada diri manusia. Seorang ahli etimologi bahasa mengatakan bahwa terbentuknya kata manusia dalam bahasa indonesia, erat hubungannya dengan "Qaidah Lughatil Arabiyyah", (ما) berarti : sesuatu, hal, perkara, apa - apa. Sedangkan (نسيان) berarti  lupa. Ketika manusia berbuat  salah maka sesungguhnya ia telah berjalan ke arah yang salah manjauhi jalan yang telah ditentukan. untuk dapat kembali lagi di jalur yang benar maka ia harus "kembali", yaitu taubat. Kalau kita mau pergi ke Jakarta tapi berjalan berbalik arah  dari arah ke Jakarta, maka satu satunya jalan yaitu kita berbalik arah kembali.

Rasulullah bersabda :  “Setiap anak Adam adalah sering berbuat salah. Dan, sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang bertaubat.?”  (H.R. Tirmidzi).
 
Tidak sedikit orang-orang saleh awalnya adalah orang-orang yang sangat jahat saat mudanya. Setelah bertaubat, ia beristiqomah dalam berbuat baik dan pengabdian kepada Allah. Beberapa di antara mereka, pada akhirnya, menjadi tokoh panutan karena kesucian dan perilaku-perilaku yang membebaskan. Konon, Sunan Kalijaga adalah salah satu contoh beberapa orang-orang saleh yang berhasil tercerahkan, dan selanjutnya menjadi tokoh pemberi pencerahan pada masyarakat pada zamannya.

Hidup suci dalam Islam bisa diraih oleh siapa saja. Kesucian hidup, bukanlah hak istimewa seseorang. Jalan tersebut terbuka bagi siapa saja, tidak hanya milik para ulama. Bahkan orang jahat sekalipun, ia bisa menapak cara hidup suci, asal dia bersedia untuk bertaubat dan bersungguh-sungguh. Bagi Allah, kesalehan bukan karena sama sekali tidak berbuat dosa, akan tetapi orang yang saleh adalah orang yang setiap kali berbuat dosa dia menyesali dan selanjutnya tak mengulangi perbuatan tadi.

Taubat yang sungguh-sungguh di mata Allah adalah pembersihan diri yang sangat dicintai. Dalam Islam, pertaubatan bukan melalui orang lain, sebut saja orang saleh, tetapi dari diri sendiri secara langsung kepada Allah. Apalagi, Islam tidak mengenal penebusan dosa dengan sejumlah uang. Islam sungguh sangat berbeda dengan cara-cara pertaubatan dibanding agama-agama lain. Islam memandang, pertaubatan adalah persoalan yang sangat personal antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dan, Tuhan dalam Islam adalah Tuhan yang bisa didekati sedekat mungkin, bukan tuhan yang berada di atas langit, tak terjangkau.

Sabda Rasulullah (Saw): "Sesungguhnya Allah lebih suka menerima tobat hamba-Nya melebihi dari kesenangan seseorang yang menemukan kembali ontanya yang hilang di tengah hutan." (H.R. Bukhori dan Muslim)
 
Islam tidak menganggap taubat sebagai langkah terlambat kapanpun kesadaran itu muncul. Pintu taubat masih terbuka, belum tertutup. Sabda Nabi (Saw): Siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima taubat dan memaafkannya.? (H.R. Muslim).

Hisab (perhitungan) akan amal-amal jelek kita di mata Allah akan tertebus dengan taubat kita. Lembaran baru hidup terbuka lebar. Langkah baru terbentang luas. Taubat merupakan jalan untuk penebusan dosa. Dimulai dengan penyesalan atas yang telah diperbuat adalah dosa, kemudian berniat untuk tidak mengulanginya, dilanjutkan memanjatkan doa istighfar agar maghfiroh diberikan oleh Allah SWT. Sang Maha Pengampun, dilengkapi dengan mengembalikan hak orang lain yang dirugikan apabila dosa itu terhubung dengan sesama atau memohon maaf atas kesalahan yang sudah dilakukan maka terpenuhilah taubat dan dosa telah tertebus. Insya Allah !
 

  • Beristighfar  bukan Untuk Bertaubat

Meskipun Taubat identik dengan perubahan dari keburukan menjadi kebaikan namun Rasulullah Saw., menjadikan mohon ampun dengan bacaan istighfar dsb., dijadikan amalan dzikir oleh beliau setiap hari. Beliau mengistiqomahkan beristighfar meski sedikitpun beliau tidak melakukan dosa dan ma`shum atau terbebas dari dosa. Kesucian beliau menunjukkan betapa bersihnya dari dosa.  Ada rukhsoh untuk Rasulullah yang diberikan oleh Allah kepadaNya. Ini menjadi pertanda bahwa pasti ada rukhshoh yang diberikan pihak lain atau dari  golongan manusia. Kalaulah Allah memberikan ma`shum kepadanya, orang beriman pun juga memberi hal yang khusus kepadanya.

Pada saat Rasulullah Saw. akan meninggal dunia, beliau mengadakan suatu pertemuan dengan seluruh keluarga dan para sahabatnya. Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya, aku akan pergi menemui  Allah. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada kalian semua. Adakah aku berhutang kepada kalian?. Tiba-tiba bangun seorang lelaki yg bernama Ukasyah, seorang sahabat mantan preman sebelum masuk Islam, dia berkata: “Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. seandainya ini dianggap hutang. Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, satu ketika engkau menunggang kuda, lalu engkau pukulkan cambuk ke belakang kuda. dan terkena pada dadaku” Rasulullah  berkata: “Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yg sama.” Dengan suara yg agak tinggi, Ukasyah berkata: “Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah.”

Kemudian Ukasyah mendekati Rasulullah. Para sahabat dan keluarganya pun merasa geram melihat tindakan Ukasyah.  Begitu sampai di tangga mimbar, dengan lantang Ukasyah berkata: “Bagaimana aku mau memukul engkau ya Rasulullah. Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau engkau mau aku pukul, maka turunlah ke bawah sini.” Rasulullah pun turun dan diduduklan beliau di kursi.  lalu dengan suara tegas Ukasyah berkata lagi: “Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju,  Ya Rasulullah”. Akhirnya pun Rasulullah tidak memakai baju. Akhirnya Ukasyah melempar jaun cambuk yang di bawah dan memeluk Rasulullah dengan menangis sejadi-jadinya. “Ya Rasulullah, ampuni aku,  maafkan aku, mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya agar aku dapat merapatkan tubuhku dg tubuhmu. Seumur hidupku aku bercita-bercita dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka”.

Sahabat Ukasyah adalah ahli surga karena dia tidak memaafkan Rasulullah Saw. ia mencari kesempatan untuk memeluk Rasulullah Saw. yang sudah lama ia cita-citakan cukup lama. Kisah ini membawa makna bahwa orang-orang yang beriman pun memaafkan Rasulullah Saw. sebab beliau tidak mungkin berbuat kesalahan pada umatnya secara sengaja.
Bagian dari golongan nabi Ulul Azmi, Rasulullah Saw. berliku-liku dalam menghadapi tantangan dan ujian dari orang-orang yang membantah dakwahnya. Ia tidak gentar gangguan orang musyrik karena Allah berjanji menjaganya. Begitu berat tugas beliau, sehingga Allah menjaminnya untuk selamat dari bahaya dan mendapat ampunan. Kema’shûman adalah sifat para Nabi, yaitu mereka semua terjaga dari kesalahan dalam menyampaikan agama. Mereka juga terjaga dari dosa-dosa besar. Adapun dosa-dosa kecil, atau lupa, atau keliru, maka para Nabi terkadang mengalaminya. Dan jika mereka berbuat kesalahan, maka Allâh Ta’ala segera meluruskannya.

Melalui istighfar, Nabi memohon ampun dan mengungkapkan kerendahan hati yang sangat dalam di hadapan Allah yang Maha Agung. Rasulullah Saw. sebagai hamba Allah yang diistimewakan tetap menyadari bahwa dirinya adalah makhluk semata yang pada hakikatnya kekuatan yang dimilikinya hanyalah dari Allah Swt  Suatu ketika pernah seorang sahabat bertanya kepada beliau mengapa tetap shalat, bersujud diiringi dengan tetesan air mata. Maka beliau menjawab kalau itu ia lakukan untuk bersyukur kepada Allah Swt. Dengan demikian membaca istighfar atau mohon ampun kepada Allah yang dilakukan Rasulullah bukanlah karena Rasulullah berdosa.

Kalaulah Rasulullah saw. tidak berdosa dan bebas dari dosa itu memohon ampun kepada Allah, bagaimana manusia biasa yang banyak tumpukan dosa-dosa tidak mau bertaubat. Pastilah  bertaubat itu adalah jalan untuk menebus dosa, membuka lembaran hidup yang baru.
 

  • Bersyukur kepada Allah, Berterima Kasih Kepada Sesama

Jika kita hitung nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita, niscaya kita tidak akan dapat menghitungnya, baik nikmat yang konkrit atau abstrak, karunia dalam bentuk jasmani maupun rohani, dalam wujud materi ataupun immateri. Mengenai apa yang di lakukan sesudah menerima karunia nikmat itu, terdapat firman Allah yang sangat baik untuk dipelajari maknanya untuk terbentuknya karakter yang baik pula.
 
Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim: [14]:7)
 
Dalam ayat ini Allah SWT. kembali mengingatkan hamba-Nya untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya. Kemudian dilaksanakan-Nya, betapa besarnya faedah dan keuntungan yang akan diperoleh setiap orang yang banyak bersyukur kepada-Nya, yaitu bahwa Dia akan senantiasa menambah rahmat-Nya kepada mereka. Begitulah firman Allah kepada hamba-Nya. Ini menunjukkan bahwa betapa Allah menyayangi hamba yang pandai mensyukuri nik'mat
Di ayat tersebut, Allah melanjutkan dengan ancaman-Nya, Bahwa barang siapa yang tidak syukur terhadap nikmat yang Aku berikan (baik itu berupa kenikmatan/ berupa ujian) maka tunggulah sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih. Inilah ancaman dari Allah kepada hamba-Nya yang kufur akan nikmat-Nya. Allah SWT. mengingatkan kepada mereka yang mengingkari nikmat-Nya dan tidak mau bersyukur bahwa dia akan menimpakan azab-Nya yang sangat pedih kepada mereka.
Allah SWT. memberi karunia ni`mat beraneka macam patutlah untuk disyukuri. Mensyukuri nikmat Allah, dapat diterapkan dengan beberapa langkah. pertama ialah dengan pengakuan dan ucapan yang setulus hati, kemudian diiringi pula dengan perbuatan, yaitu menggunakan rahmat tersebut dengan cara dan untuk tujuan yang diridai-Nya. Inilah langkah bersyukur kepada Allah yang bisa menjadikan tambahan nikmat bagi yang bersyukur.  Meskipun demikian, amat penting apabila kita menelaah kembali nikmat Allah yang diberikan kepada  seseorang melalui  orang yang lain. Patut juga jika hal ini menjadi pertimbangan dan penguatan bersyukur kepada Allah. Berikut ini ada suatu kisah yang bisa diambil pelajaran yang erat kaitannya bersyukur kepada Allah.

Pada suatu ketika Rasulullah Saw. duduk bersama dengan para sahabat sebagaimana biasanya yang dilakukan. Kemudian datanglah seorang laki-laki menghampirinya dan berkata: Ya Rasulullah, sudikah engkau memberikan sesuatu kepadaku. Aku ini adalah seorang musafir yang membutuhkan hal yang bermanfaat untuk perjalananku. Rasulullah pun menjawab: “Wahai fulan, mohon maaf ! kali ini saya tidak memiliki hal yang bermanfaat untuk dirimu. Cobalah engkau temui putriku “Fathimah” ! barangkali ia bisa memberimu sesuatu!” segera si laki-laki itu menuju ke rumah Putri Rasulullah. “Wahai Putri Rasulullah, aku disuruh oleh ayahmu untuk datang kemari untuk meminta sesuatu kepadamu. Sudikah kiranya engkau memberiku sesuatu karena aku membutuhkan”, Si Musafir bertanya. Setelah itu Fathimah az Zahroh berkata: “Wahai bapak, aku pun tidak punya apa-apa, namun aku akan berikan kulit domba yang biasanya dipakai oleh putraku sebagai alas untuk tidur”. Musafir pun menerimanya dan langsung lari menuju Rasulullah Saw. dan berkata: “Ya Rasul, Putrimu memberikan ini kepadaku” sambil menunjukkannya. Rasul pun kembali bertanya: “Sudahkah engkau berterima kasih pada putriku?”, Musafir pun lari menuju ke rumah Fatimah untuk mengucapkan Terima kasih kepadanya.

Kisah di atas menunjukkan bahwa dalam hal memberi menerima tertata dalam suatu etika. Meskipun pada hakikatnya rizki itu berasal dari Allah semata namun Allah memberikan itu melalui seseorang. Dari sinilah terwujud tatanan etika yang menggambarkan pentingnya hubungan yang baik dengan Allah dan juga dengan sesama manusia. Rizki yang kita terima berasal dari Allah yang mana Dia memberikannya melalui orang lain. Hikmah yang didapat adalah bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikanNya dan berterima kasih pada seseorang yang telah memberi sesuatu yang berguna yang pada hakikatnya berasal dari Allagh Swt.. Bersyukur kepada Allah dan berterima kasih pada sesama manusia, menjadi langkah tindak lanjut dari karunia nikmat.
  





Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)