Opini Civitas

Telolet Versus Teroris

Administrator@DJ | Selasa, 27 Desember 2016 - 09:01:52 WIB | dibaca: 527 pembaca

Dok.SMADJ (AN)



Gema telolet dengan ucap intruksi “Om telolet Om” menggemparkan lalu lintas sampai dibicarakan di obrolan sosial media. Pro kontra pun muncul untuk memperebutkan status kata yang digunakan itu mengandung unsur akidah atau hanya sekedar obrolan saja. Penafsiran kata berlebihan membuat indahnya ungkapan seni yang konon kabarnya terucap dari anak-anak kecil yang semula mendengarkan klakson bus itu menarik menjadi lebih populer. Dalam trasnportasi umum bus atau lainnya di bulan desember 2016 ini terasa nikmat terasa karena adanya banyak senyuman di saat di tepi jalan-jalan raya ada anak-anak kecil dan remaja terenyum serentak membawa kertas bertuliskan “Om Telolet Om” suara klakson terdengar disambut senyum tawa canda sorak sorai mereka. Ada pula Pak sopir yang melambaikan tangannya pada mereka karena klakson busnya tidak bunyi telolet. Inilah guyonan masyarakat yang juga dibuat parodi di dunia maya dan mungkin ini juga tradisi musiman yang bisa dikenang.

Gempar Teroris di Indonesia yang mana ada yang mengatakan Islam garis keras dan ada yang mengatakan bukan Islam menjadi momok islam garis lurus Indonesia. Bertujuan jihad melawan kekafiran dengan meniadakan toleransi antar umat pemeluk agama lain memberikan nuansa buruk. Yang jelas Teroris bukanlah Jihad tapi jahat. Ini adalah salah satu akibat pemahaman tentang ajaran islam ditelan mentah tanpa dikaji dengan cermat. Semua agama tidaklah mungkin mengandung ajaran kekerasan, pembunuhan tanpa alasan, hingga bunuh diri. Terlebih agama Islam yang rahmatan lil alamin yang tidak hanya meindungi pemeluknya namum juga menjamin keamanan hidup di dunia untuk yang bukan pemeluknya. Di bulan desember ini telah tertangkap gerakan-gerakan teroris yang bertujuan ingin menghilangkan nyawa sesama muslim dan non muslim. Kerapkali menjelang Hari Natal dan tahun baru pasti ini sering ditemukan. Ini adalah bahaya yang mengancam keutuhan keberagaman agama.

Di sela-sela keceriaan canda tawa anak-anak bangsa dengan ‘Om Telolet Om”nya, ada hal yang perlu kita pikirkan lagi dan diwaspadai. Kita pikirkan masa depan mereka agar tetap berjalan di garis Islam Nusantara yang berhaluan ahlussunnah wal Jamaah. Kita bekali mereka dengan konsep-konsep Islam damai anti kekerasan. Kita waspadai gerakan-gerakan Islam yang ada di lingkungan kita sekitarnya, gerakan garis lurus ataukah garis keras?. Tentunya kita berharap agar anak-anak bangsa ini bukan anak-anak yang nantinya diregenerasikan menjadi golongan yang bertindak kejahatan nasional dan juga internasional. Biarlah mereka anak-anak yang penuh canda tawa dengan “Om Telolet Om”nya (tanpa disisipkan penafsiran yang berlebihan)!. Dan jangan biarkan mereka menjadi anak-anak yang penuh kefakiran wawasan akan bahayanya terorisme ! waspada!!! Sel-sel teroris di Indonesia semakin sulit untuk dideteksi.

Panceng Gresik, 25 Desember 2016 (Tidak untuk memperingati Natal)





Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)